DAIRI24JAM || SIDIKALANG – Kinerja Polres Dairi kembali menjadi sorotan tajam publik. Kali ini, kritik pedas muncul menyusul lambannya penanganan kasus pengeroyokan yang menimpa seorang wanita bernama Manda. Fakta mengejutkan terungkap bahwa Manda merupakan putri kandung dari Aiptu M. Zulham Hasibuan, seorang anggota polisi aktif yang bertugas di institusi yang sama, yakni Polres Dairi.
Kasus yang seharusnya menjadi atensi prioritas ini justru dinilai jalan di tempat. Ketidakjelasan status hukum para pelaku memicu keresahan, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat luas yang mengamati jalannya perkara ini.
Salah seorang warga yang identitasnya di rahasiakan, menyampaikan kritik pedas terhadap lambatnya respons penyidik. Menurutnya, jika kasus yang menimpa keluarga internal kepolisian saja tidak segera dituntaskan, maka harapan masyarakat sipil untuk mendapatkan keadilan akan semakin menipis.
“Ini sangat aneh. Korban adalah anak dari anggota polisi (Aiptu M. Zulham Hasibuan) yang bertugas di situ (Polres Dairi), tapi penanganannya saja lambat sekali. Kalau keluarga polisi saja diperlakukan begini, apalagi kita masyarakat biasa ini? Ke mana lagi kami mau mengadu?” ujar sumber tersebut kepada awak media, Rabu (8/4/2026) Sore.
Ia juga menyoroti adanya pembiaran terhadap dua orang terduga pelaku yang hingga kini belum mendapatkan tindakan tegas dari pihak penyidik. Padahal, menurut keterangan saksi-saksi di lapangan, keterlibatan kedua orang tersebut dalam aksi pemukulan terhadap korban sudah sangat terang benderang.
Selain masalah lambannya prosedur hukum, warga juga menyinggung latar belakang atau rencana masa depan para pelaku yang disebut-sebut berambisi menjadi anggota TNI. Muncul kekhawatiran bahwa status atau rencana tersebut dijadikan dalih untuk meloloskan diri dari jerat hukum.
“Sudah jelas kedua orang itu ikut memukuli korban, kenapa polisi tidak menghukum mereka? Jadi kalau mereka ingin menjadi TNI, memangnya bisa sesuka hati mereka? Apakah dengan alasan itu mereka bisa bebas setelah melakukan pemukulan? Hukum harus tetap tegak tanpa pandang bulu,” tegas sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga korban masih menanti kepastian hukum dan transparansi dari penyidik Polres Dairi. Publik mendesak agar Kapolres Dairi segera mengambil tindakan tegas dan mengevaluasi kinerja satuan yang menangani kasus ini agar kepercayaan masyarakat terhadap Polri tidak semakin merosot.
Kasus ini menjadi ujian bagi Polres Dairi: apakah mereka mampu bertindak profesional dan objektif meski korbannya adalah bagian dari keluarga besar mereka sendiri, atau justru membiarkan preseden buruk “hukum yang tumpul ke atas” terus berlanjut.
Penulis : Bambang Ermansyah










